DAILY OUTLOOK

  • by

11 FEBRUARY 2021

TINJAUAN FUNDAMENTAL

EUR/USD: Euro melanjutkan Kenaikan Di Dorong Lemahnya CPI Amerika Serikat

EUR/USD memperpanjang kenaikannya diatas 1.21 setelah CPI AS meleset daripada yang diperkirakan di level 1.4%.

Pembicaraan mengenai stimulus keluar dari perhatian dengan sedang berlangsungnya siding terhadap Trump di Washington.

Pasangan matauang EUR/USD mempertahankan posisinya yang positif, diperdagangkan beberapa pips diatas ketinggian yang dicapai pada hari Selasa.

EUR/USD sempat menyentuh puncaknya pada perdagangan hari Rabu di 1.2143, dengan sentimen pasar tetap positip tanpa adanya berita yang relevan yang bisa menggerakkan pasar keuangan.

Jerman mempublikasikan angka inflasi bulan Januari yang mengkonfirmasi perkiraan pendahuluan. Sementara itu, CPI tahunan muncul di 1.16%, naik dari sebelumnya 1.4%.

Amerika Serikat juga mempublikasikan data inflasi bulan Januari yang muncul dibawah daripada yang diperkirakan.

CPI tahunan AS bulan Januari muncul di 1.4% sementara angka bulanan muncul di 0.3% turun dari bulan sebelumnya 0.4%.

CPI inti AS muncul di 0.0% turun dari bulan sebelumnya di 0.1% dan meleset dari yang diperkirakan 0.2%.

GBP/USD: Vaksinasi Inggris Berjalan Lancar, Sterling menyentuh Level Tertinggi Sejak April 2018

Mata uang poundsterling kini terus bergerak naik. Mata uang Inggris ini mencatatkan penguatan jika disandingkan dengan mata uang utama maupun mata uang emerging markets.

Merujuk Bloomberg, GBP/USD berada di level 1,3840 pada Rabu (10/2) pukul 17.30 WIB. Level ini menguat 0,17% jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Bahkan, level tersebut sekaligus yang tertinggi sejak April 2018 silam.

Secara fundamental poundsterling belakangan ini memang sedang positif. Salah satu faktor pendukungnya adalah kemajuan vaksinasi yang dilakukan di Inggris sudah mencapai 18% dari populasi penduduknya. “Pemerintah Inggris pun sudah menargetkan untuk menjangkau sekitar 15 juta orang hingga tanggal 15 Februari mendatang. Pada akhirnya, dengan progres vaksin yang cepat ini, memungkinkan PM Boris Johnson untuk segera mempercepat penghentian lockdown,”

Tak hanya secara fundamental, secara teknikal, pasangan GDP/USD masih akan berpotensi menguat dengan target berikutnya ada di level 1,4000-1,4160. Apalagi, optimisme dari Bank of England (BoE) turut jadi faktor positif lainnya bagi poundsterling. 

Pada minggu depan akan dirilis data produk domestik bruto (PDB) Inggris dan diperkirakan akan memberikan angka yang kuat. Oleh karena itu, melihat hal tersebut akan mendukung reli poundsterling ke depan. Terdapat beberapa faktor yang perlu dicermati. Pertama, kemungkinan mengenai suku bunga negatif. Walaupun BoE pada bulan lalu sudah menepisinya, hal ini tetap perlu diperhatikan. 

Selain itu, faktor eksternal dari AS yakni paket stimulus fiskal dan moneter yang akan membuat investor kembali memburu aset berisiko. Ditambah lagi the Fed dalam waktu yang cukup lama belum akan merubah suku bunga rendahnya.

Faktor lainnya adalah perkembangan di Eropa yang mulai kondusif pasca ketidakstabilan politik di Italia. Mario Draghi mantan Presiden ECB menjadi PM Italia, diharapkan dari pemilihan ini memberi dorongan tersendiri bagi Eropa dan bisa berdampak bagi Inggris, kendati sudah lepas dari Uni Eropa memproyeksikan pada akhir tahun nanti, pasangan GBP/USD berpotensi berada di kisaran 1.3400 – 1.4800.

AUD/USD: Aussie Berusaha Mempertahankan Level 0,77000, Terkoreksi Dari Puncak 2 Minggu

  • AUD/USD mulai melemah setelah kinerja harian negatif pertama dalam empat sebelumnya.
  • Risiko menyusut menyusul data AS yang suram, pernyataan hati-hati Ketua Fed Powell.
  • Stimulus AS berharap, vaksinasi melawan bearish di tengah kurangnya hal positif utama.
  • Ekspektasi Inflasi Konsumen Australia, pembicaraan Biden-Xi, dan berita paket bantuan covid-AS akan menjadi kuncinya.

Aussie tetap tertekan di sekitar 0,7720, meskipun pemantulan terbaru dari terendah hari sebelumnya, selama awal perdagangan sesi Asia pada hari Kamis. Harga terkoreksi untuk pertama kalinya dalam empat hari terakhir di tengah suasana risk-off dan data suram dari China. Ketidakaktifan terbaru dalam perdagangan dapat meregang karena kalender ekonomi hanya memiliki sedikit penawaran karena libur Tahun Baru Imlek selama satu minggu di Beijing.

Sementara memperpanjang pelemahan sesi Asia, karena data inflasi China dan kesengsaraan virus korona Melbourne, AUD/USD tetap tertekan setelah rincian Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang lebih lemah dari yang diharapkan untuk Januari dan suramnya pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

China dan AS berada di jalur yang sama, setidaknya pada data CPI terbaru, karena keduanya menandai lebih lemah dari angka konsensus pasar selama Januari. Kejatuhan inflasi di China juga mencakup data gerbang pabrik, Producers Price Index (PPI), sementara mengikuti arus ekonomi terbaru yang menunjukkan kelemahan di pemain industri terbesar dunia dan pelanggan terbesar Australia. Di sisi lain, rincian inflasi AS juga suram dengan komponen utama, jasa, yang menandai penurunan tajam. Lebih lanjut, Ketua Fed Powell memperingatkan untuk tidak terlalu optimis atas data ketenagakerjaan AS dan menghidupkan kembali kesiapan untuk menjaga kebijakan moneter tetap mudah.

Di tempat lain, kekhawatiran virus Melbourne semakin kuat di tengah obrolan infeksi massal yang belum dikonfirmasi setelah dua kasus awal virus corona.

Perlu disebutkan bahwa Keyakinan Konsumen Westpac Australia yang optimis gagal mendukung Aussie saat bersamaan dengan serbuan global dalam vaksinasi dan pembicaraan yang sedang berlangsung mengenai stimulus bantuan langsung sebesar $ 1,9 triliun dari Presiden AS Joe Biden. Ke depan, Ekspektasi Inflasi Konsumen Australia untuk Februari, kemungkinan akan tetap tidak berubah pada 3,4%, dapat menawarkan arahan langsung ke pasangan AUD/USD di tengah hari yang diharapkan membosankan karena liburan di China dan Jepang. Namun, panggilan telepon pertama antara Presiden

USD/CHF

USD/JPY: YEN Masih Bergerak Moderat Sepanjang Rabu Sampai Kamis ini

Pair USDJPY pada sesi Asia Kamis (11/2/2021) bergerak moderat ke arah posisi resisten setelah menembus posisi pivot hariannya oleh pergerakan rebound dolar AS di tengah minat perdagangan aset risiko beralih ke safe haven. Yen juga mendapat tekanan dari liburnya pasar keuangan Jepang dan lemahnya rilis data ekonomi sebelumnya.

Perdagangan aset risiko sebelumnya tertekan oleh rlis data inflasi China yang suram dan kemudian dilanjutkan dengan indeks Harga Konsumen AS yang lebih lemah dari yang diharapkan untuk bulan Januari. Kemudian risalah FOMC bulan lalu juga memberikan tekanan dari pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang memperingatkan untuk tidak terlalu optimis atas data ketenagakerjaan AS.

Perdagangan sebelumnya data ekonomi Jepang yang lemah yaitu data indeks harga produsen di Jepang turun 1,6 persen yoy di bulan Januari 2021 setelah turun 2 persen pada bulan Desember dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Data ini merupakan penurunan harga produsen yang kesebelas secara beruntun.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya bergerak konsolidasi di awal pasar uang Asia  setelah  terkoreksi 4 sesi berturut sebelumnya. Dolar AS tertekan oleh buruknya rilis data inflasi bulan Januari yang masih dibawah ekspektasi.

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.