DAILY OUTLOOK

1 MARET 2021

TINJAUAN FUNDAMENTAL

EUR/USD: Kenaikan Jangka Panjang EURO Terhalang Naiknya Yields AS

Sentimen yang sehubungan dengan risiko dan reflasi perdagangan menguasai pasar pada minggu lalu dan kemungkinan masih akan menggerakkan matauang EUR/USD selama minggu ini. Pasangan matauang EUR/USD mencapai puncaknya pada hari Kamis di 1.22415, level tertinggi selama lebih dari satu bulan, namun pada hari Jumat berbalik turun ke 1.20707 karena kembali menguatnya dollar AS.

Secara umum, data makro ekonomi di Uni Eropa menggembirakan pada minggu lalu. IFO Business Climate Jerman membaik ke 92.4 pada bulan Februari dari sebelumnya 90.3 pada bulan Januari. GDP Jerman di kuartal ke 4, direvisi naik ke 0.3% QoQ. GFK Consumer Confidence Survey bulan Maret lebih baik daripada yang diperkirakan. Inflasi Eropa dikonfirmasi di 0.9% YoY pada bulan Januari. Sementara Economic Sentiment Indicator bulan Februari dicetak di 94.3, lebih baik daripada sebelumnya di 91.5 dan lebih daripada yang diperkirakan di 92.

Berita – berita mengenai vaksin terus memberikan semangat. FDA memberikan persetujuan kepada vaksin sekali suntik dari Johnson & Johnson. Riset dari Israel melaporkan bahwa vaksin dari Pfizer/BioNTech sukses menurunkan infeksi sebanyak 94%.

Data ekonomi AS bervariasi. Sementara klaim pengangguran turun ke 730.000, angka total order durable goods AS mengalami kenaikan yang tinggi, namun angka inti meleset dari yang diperkirakan dengan kenaikan yang lemah di 0.5%. GDP AS kuartal ke empat direvisi sedikit naik menjadi 4.1%.

Minggu ini dari Eropa, Markit akan mempublikasikan PMI bulan Februari versi final. Sementara Jerman akan merilis perkiraan pendahuluan mengenai angka inflasi bulan Februari, Factory Orders & Retail Sales bulan Januari. Angka – angka ini semua berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi Jerman. Uni Eropa akan merilis perkiraan inflasi dan Retail Sales Januari.

GBP/USD: Poundsterling Dilanda Aksi Jual Karena Dianggap Terlalu Mahal, Namun Masih Beresiko Terkoreksi.

Poundsterling menderita penurunan paling parah tahun ini dalam 24 jam terakhir. GBP/USD rontok lebih dari 100 pips, sementara EUR/GBP melonjak lebih dari 1 persen. Depresiasi terpicu oleh kenaikan yield obligasi AS dan penguatan USD, selain juga karena sejumlah analis menilai pound sudah overvalued.

Sentimen investor memburuk, terlihat dari jatuhnya bursa saham global serta melonjaknya yield obligasi AS dan Eropa. Yield obligasi AS bertenor 10, 7, dan 5 tahunan kompak meroket; sementara lelang obligasi US Treasury bertenor 7-tahunan pada hari Kamis kehilangan peminat. Situasi ini berdampak negatif bagi poundsterling yang pergerakannya semakin identik dengan tren saham dan aset high risk lain sejak peresmian Brexit. Kenaikan yield obligasi menandakan bahwa investor khawatir inflasi akan naik tajam dalam bulan-bulan dan tahun-tahun mendatang, sehingga mendorong bank sentral membatalkan rencana mereka mempertahankan kebijakan moneter longgar. Padahal, stimulus moneter itu lah yang mendorong kenaikan bursa saham global ke tingkat tertinggi pasca-pandemi dan menarik investor membeli aset-aset high risk.


“Sang safe haven USD merespons sesuai ekspektasi dalam skenario risk-off… meningkat dengan kuat lintas pasar, memandu penurunan pada mata uang berisiko (CAD, AUD, & GBP),” kata Eric Bregar, Kepala Strategi FX di Exchange Bank of Canada, “Mata uang-mata uang pendana (EUR & JPY) juga jatuh vs USD, tetapi unggul pada pasangan cross (sehingga EUR menguat terhadap GBP -red).” “Euro berada di atas GBP dalam peringkat mata uang safe haven,” ungkap Robert Howard, analis pasar Reuters.


Sebelum kejatuhan poundsterling kemarin, para analis dari HSBC dan Rabobank lain telah mengekspresikan kesangsian mereka terhadap reli GBP/USD hingga ke atas 1.41. Mereka beranggapan pound menjadi terlalu mahal, karena sejumlah masalah yang mendasari fundamental mata uang ini. Meski program vaksinasi Inggris terbilang sukses, tapi kinerja ekonomi masih jauh dari ekspektasi dan bahkan belum sebaik AS. Sisa-sisa masalah terkait Brexit yang belum rampung juga mulai mencuat satu per satu. Selain itu, walau bank sentral Inggris (BoE) telah menepis spekulasi suku bunga negatif, tetapi tingkat bunga forward Inggris tetap selaras dengan tingkat bunga negara-negara G10 lain (khususnya AS). Rencana pelonggaran lockdown Inggris berpotensi mendukung bias bullish pound, tetapi hanya jika pemerintah Inggris bersedia meneruskan penyaluran stimulus fiskalnya.

AUD/USD: Jatuh 2 Persen Dalam Sehari Akibat Gejolak Pasar Obligasi

USD/CHF

USD/JPY: Yen Jepang Menuju Ke Level 107?

  • Melonjaknya imbal hasil Treasury AS dan penurunan ekuitas mempertahankan mata uang utama.
  • Data Jepang keluar sedikit lebih baik dari yang diharapkan, menunjukkan kemajuan ekonomi yang melambat.
  • USD/JPY secara teknis bullish dekat tertinggi baru 2021, bisa melewati 107,00.

Pasangan USD/JPY mencapai 106,42, tertinggi baru 2021, karena permintaan dolar berlanjut ke sesi Asia, di samping penurunan ekuitas. Indeks utama Asia kehilangan lebih dari 3%, meskipun indeks Eropa sedikit lebih rendah, karena penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS meredam aksi jual. Hal ini juga membatasi apresiasi USD/JPY, yang mundur dari tertinggi yang disebutkan. Imbal hasil acuan Treasury 10-tahun memuncak pada 1,61% pada hari Kamis, saat ini di 1,47%.

Jepang menerbitkan data inflasi Tokyo bulan Februari, dengan angka utama mencetak di -0,3% thn/thn, seperti yang diharapkan. Pembacaan inti, tidak termasuk harga makanan segar, juga dicetak pada -0,3% thn/thn. Produksi Industri naik 4.2% bln/bln di bulan Januari tetapi mengalami kontraksi 5.3% dibandingkan tahun sebelumnya. Akhirnya, Pesanan Konstruksi naik 14,1% di Januari, meskipun Awal Perumahan turun 3,1%.

AS akan menerbitkan Penghasilan Pribadi dan Pengeluaran Pribadi bulan Januari dan perkiraan akhir Indeks Sentimen Konsumen Michigan bulan Februari, yang diramalkan di 76,5.

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.