DAILY OUTLOOK

5 MARET 2021

TINJAUAN FUNDAMENTAL

EUR/USD: EURO Turun Tajam Setelah Pidato Powell

EUR/USD diperdagangkan menuju 1.1950 karena naiknya yields AS ke  1.51%, setelah Pidato dari Gubernur Fed Powell. Di dalam pidatonya, Powell mengatakan lonjakan imbal hasil baru-baru ini telah  menarik perhatian  mereka dan  prihatin dengan kondisi pasar yang tidak teratur atau pengetatan yang terus-menerus dalam kondisi keuangan yang mengancam pencapaian tujuan Fed.

Namun kepala Fed tersebut mengatakan perkiraannya tentang kenaikan inflasi hanya sementara, dikarenakan   ada banyak alasan untuk menutupi  sebelum pertumbuhan harga mencapai tingkat yang berkelanjutan di atas target 2 persen Fed. The Fed juga  mengisyaratkan bahwa suku bunga akan tetap pada level mendekati nol sampai inflasi berada di jalur yang melebihi 2 persen untuk beberapa waktu.

Naiknya yields AS disebabkan karena semakin dekatnya akan dikeluarkannya stimulus fiscal AS untuk kelegaan bagi mereka yang terdampak Virus Corona. Pasar kelihatannya mengabaikan dua angka ekonomi AS yang mengecewakan. Statistik pekerjaan sektor swasta dari ADP dan PMI Jasa dari ISM meleset dari yang diperkirakan.

Di benua Eropa, Jerman melonggarkan Sebagian restriksi pada hari Senin, namun kebanyakan masih diperpanjang sampai akhir bulan Maret. Negara – negara Eropa melonggarkan Batasan terhadap penggunaan vaksin dari AstraZeneca setelah lambatnya kemajuan. AS telah memberikan vaksin terhadap sekitar 16% dari populasinya sementara negara – negara Eropa masih jauh dari mencapai dua digit.

Secara keseluruhan, vaksinasi dan prospek pertumbuhan ekonomi membuat pasangan matauang ini mengarah turun, apalagi setelah Powell memberikan tanda bahwa the Fed tidak akan bertindak, maka EUR/USD turun semakin tajam.

GBP/USD: Sempat Naik Tembus 1.40, Pounds Berbalik Turun Tajam Setelah Pidato Powell

GBP/USD turun tajam ke 1.3880 karena naiknya yields AS ke  1.51%, setelah pidato dari Gubernur Fed Powell.  Sterling kehilangan semua keuntungan sehubungan dengan budget Inggris yang direspon positif oleh pasar.

Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak mengejutkan pasar dengan mengumumkan “super deduction” bagi perusahaan yang mendorong investasi. Sementara budget Inggris yang baru terdiri dari kenaikan pajak korporasi di tahun 2023 dari 19% menjadi 25%, perkiraan ekonomi yang bagus, diperpanjangnya skema cuti dan hal-hal yang baik lainnya membuat ekonomi berada pada pijakan yang positif.

Poundsterling juga mendapatkan keuntungan dari cepatnya pendistribusian vaksin di Inggris yang sekarang telah mencapai 1/3 dari populasi, diatas negara – negara besar lainnya. Sebelum pidato dari Gubernur Fed Powell, GBP/USD bisa bertahan melawan kekuatan dollar AS, dengan yields Treasuries AS tetap tinggi yang saat ini mendekati 1.50% atas obligasi 10 tahun yang merupakan benchmark global.

Investor meninggalkan hutang obligasi AS dengan semakin dekatnya dikeluarkan stimulus fiscal AS setelah terjadi kompromi dengan Demokrat yang moderat dimana jumlah dana yang akan keluar kemungkinan lebih kecil dari $1.9 triliun. Kepastian yang semakin tinggi dari belanja pemerintah ini adalah hal yang buruk bagi obligasi dan positif bagi dollar AS. Namun bagaimana dengan data makro ekonomi AS yang lemah? Statistik pekerjaan sektor swasta dari ADP dan PMI Jasa dari ISM meleset dari yang diperkirakan. Bolanya sekarang ada pada Gubernur the Fed, Jerome Powell yang akan muncul di publik terakhir kalinya sebelum bank sentral AS ini memasuki periode istirahat. Apakah Powell akan mengubah arah dan menyatakan keprihatinannya atas naiknya yields AS?.

Di dalam pidatonya, Powell mengatakan lonjakan imbal hasil baru-baru ini telah  menarik perhatian  mereka dan  prihatin dengan kondisi pasar yang tidak teratur atau pengetatan yang terus-menerus dalam kondisi keuangan yang mengancam pencapaian tujuan Fed. Namun kepala Fed tersebut mengatakan perkiraannya tentang kenaikan inflasi hanya sementara, dikarenakan   ada banyak alasan untuk menutupi  sebelum pertumbuhan harga mencapai tingkat yang berkelanjutan di atas target 2 persen Fed. The Fed juga  mengisyaratkan bahwa suku bunga akan tetap pada level mendekati nol sampai inflasi berada di jalur yang melebihi 2 persen untuk beberapa waktu.

AUD/USD: AUSSIE Melemah 3 Hari Berturut-turut

Pair AUDUSD pada sesi Asia Jumat (5/3/2021) bergerak lemah masuki hari ketiga berturut di tengah pergerakan kuat dolar AS serta lemahnya sentimen perdagangan aset risiko. Kekuatan rilis data ekonomi Australia yang terakhir tidak bertahan memberikan tenaga bagi pair.

Indeks Kinerja Layanan Australia Grup Industri Australia melonjak menjadi 58,8 pada Februari 2021 dari 54,3 di bulan sebelumnya. Itu adalah data  tertinggi sejak Juni 2018, menyoroti efektivitas langkah-langkah kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung pemulihan ekonomi.

Sebelumnya Australia mencatat surplus perdagangan terbesar dalam sejarah, karena ekspor melonjak 6 persen ke level tertinggi sepuluh bulan, sementara impor turun 2 persen ke level terendah tiga bulan di tengah meningkatnya permintaan global karena lebih banyak negara membuka kembali ekonomi mereka setelah pelonggaran dari Lockdown akibat Pandemi Virus Corona, sementara itu penjualan ritel naik 0,5% bulan ke bulan.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya bergerak kuat di awal pasar uang Asia  setelah rebound sesi sebelumnya.

Dolar AS terangkat karena imbal hasil Treasury meningkat merespon pidato Jerome Powell, dimana pemulihan pasar tenaga kerja akan dipercepat dalam beberapa bulan mendatang. Powell juga mengatakan  setiap perubahan dalam QE Fed akan membutuhkan kemajuan aktual menuju tujuan tersebut.

USD/CHF

USD/JPY: Yen Capai Level Tertinggi 8 Bulan

Pair USDJPY pada sesi Asia Jumat (5/3/2021) bergerak retreat dari posisi tertinggi 8 bulan di posisi dolar AS masih bergerak kuat. Pair terkoreksi oleh anjloknya perdagangan aset risiko sejak penutupan bursa saham Wall Street yang semakin merah. Sentimen investor masih mengkhawatirkan pernyataan Jerome Powell yang menyebutkan terjadinya inflasi jika ekonomi AS dibuka dengan normal.

Fundamental yen masih terkurung oleh peningkatan kasus harian Virus Corona di Jepang,  diberitakan Perdana Menteri Suga Yoshihide  sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang keadaan darurat virus corona di wilayah Tokyo selama sekitar dua minggu karena kekhawatiran bahwa infeksi belum cukup menurun dan terus membebani sistem medis di wilayah tersebut.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya bergerak kuat di awal pasar uang Asia  setelah rebound sesi sebelumnya. Dolar AS terangkat karena imbal hasil Treasury meningkat merespon pidato Jerome Powell, dimana pemulihan pasar tenaga kerja akan dipercepat dalam beberapa bulan mendatang. Powell juga mengatakan  setiap perubahan dalam QE Fed akan membutuhkan kemajuan aktual menuju tujuan tersebut.

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.