DAILY OUTLOOK

1 APRIL 2021

TINJAUAN FUNDAMENTAL

EUR/USD: EURO Menguat Di Dorong Pelemahan US Dollar

EUR/USD berbalik naik ke arah 1.1750 ke sekitar 1.1746 dengan melemahnya dollar AS. Isu Covid di Eropa terus membebani euro.

Yields 10 tahun AS turun dari level tertinggi terbaru di 1.77% ke 1.70%, mengakibatkan dollar AS ikut turun dari ketinggiannya.

Dollar AS melemah dengan turunnya imbal hasil Treasury AS. Turunnya imbal hasil Treasury AS disebabkan karena Biden mengatakan akan menaikkan pajak untuk mendanai sebanyak $2 triliun dari belanja infrastruktur senilai $3 triliun. Hal ini berarti berkurangnya penerbitan surat hutang pemerintah AS yang menaikkan harga dari obligasi AS sehingga menurunkan yields obligasi AS yang diikuti dengan melemahnya dollar AS.

Turunnya dollar AS mengabaikan bagusnya data ekonomi AS yang keluar. Consumer Confidence AS muncul di 109.70 mengalahkan yang diperkirakan di 96.9 dan angka sebelumnya di 90.4.

Sementara itu laporan employment AS untuk bulan Maret dari ADP menunjukkan pertambahan pekerjaan sebanyak 517.000 yang adalah sesuai dengan yang diperkirakan sebesar 525.000 dan naik jauh dibandingkan dengan bulan Februari sebanyak 117.000.

Laporan ini akan menjadi pendahulu dari laporan NFP yang akan keluar pada hari Jumat yang diperkirakan akan menunjukkan pertambahan pekerjaan sebanyak 675.000 pekerjaan setelah kenaikan sebanyak 379.000 pada bulan Februari.

Sementara di Eropa, angka pengangguran Jerman mengecewakan dengan penurunan minor sebanya 8.000, yang menunjukkan bahwa Jerman masih sedang berjuang.

Secara keseluruhan dollar AS masih memiliki ruang untuk naik sementara euro masih harus menunggu untuk bisa berbalik naik.

GBP/USD: GBP Berbalik Menguat Akibat Melemahnya Dollar

GBP/USD berhasil keluar dari tekanan dan berbalik naik ke sekitar 1.3807 dengan melemahnya dollar AS bersamaan dengan turunnya yields AS. GDP Inggris kuartal ke 4 tahun 2020, di upgrade menjadi 1.3%.

GDP kuartal ke 4 Inggris di upgrade menjadi 1.3% dari sebelumnya 1%. Namun penggerak naik Sterling terutama berasal dari suksesnya kampanye vaksin Inggris.

Tidak seperti di Eropa dan bahkan di AS, kasus virus corona di Inggris dan kematian akibat pandemi mengalami penurunan. Hal ini memberikan pemerintah kebebasan untuk melanjutkan program pembukaan kembali ekonomi Inggris.

Di sisi lain, dollar AS melemah dengan turunnya imbal hasil Treasury AS. Turunnya imbal hasil Treasury AS disebabkan karena Biden mengatakan akan menaikkan pajak untuk mendanai sebanyak $2 triliun dari belanja infrastruktur senilai $3 triliun.

Hal ini berarti berkurangnya penerbitan surat hutang pemerintah AS yang menaikkan harga dari obligasi AS sehingga menurunkan yields obligasi AS yang diikuti dengan melemahnya dollar AS.

Secara keseluruhan, dollar AS cenderung turun sementara Sterling tetap kuat sehingga pasangan matauang GBP/USD berpotensi melanjutkan kenaikannya.

AUD/USD: AUSSIE Tertekan Selama 3 Hari Berturut-turut

Pair AUDUSD pada sesi Asia Kamis (1/4/2021) bergerak terbatas pada area support setelah melewati tekanan 3 sesi berturut sebelumnya. Awal sesi dibuka lebih rendah oleh pembukaan dolar AS yang kuat dan anjloknya harga minyak mentah, kemudian naik kembali merespon kuatnya perdagangan aset risiko.

Setelah rilis data yang kurang optimis seperti kontraksi lanjutan retal sales dan juga turunnya surplus dagang, laju pair tertahan kembali.

Surplus perdagangan Australia turun menjadi AUD7,53 miliar pada Februari 2020 dari rekor tertinggi Januari sebesar AUD9,62 miliar, dan meleset dari perkiraan pasar sebesar AUD 9,7 miliar, merupakan  surplus perdagangan terkecil sejak November 2020.

Data retail sales Australia menunjukkan sedikit perbaikan pada area kontraksinya yang turun 0,8% pada bulan Maret, lebih kuat dari kontraksi sebelumnya dan juga perkiraan di -1,1%.

Sebelumnya juga dirilis data Indeks Kinerja Manufaktur Australia menurut AIG  meningkat menjadi 59,9 pada Maret 2021 dari 58,8 pada bulan sebelumnya, naik untuk bulan keenam berturut-turut dan data tertinggi sejak Maret 2018.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya sedang bergerak flat di pasar uang Asia  setelah koreksi tipis  sesi sebelumnya. Sentimen investor dipengaruhi progres stimulus fiskal AS dan juga vaksinasi yang agresif akan membantu Amerika Serikat memimpin pemulihan pandemi global.

USD/CHF

USD/JPY: Yen  Memperpanjang Kenaikan

Pair USDJPY pada sesi Asia Kamis (1/4/2021) dibuka kuat pada  area resisten hariannya yang memperpanjang posisi tertinggi 12-bulan, kemudian kini konsolidasi oleh tarik menarik sentimen data ekonomi Jepang yang optimis serta kuatnya perdagangan aset risiko.

Rilis data ekonomi yang pertama yaitu Tankan Manufacturing index yang rebound dari posisi kontraksi sebelumnya, naik ke posisi 5 dari -10 periode bulan sebelumnya.

Demikian juga data PMI manufaktur au Jibun Bank Jepang naik lebih tinggi menjadi 52,7 pada bulan Maret, naik dari perkiraan awal 52,0 dan dibandingkan dengan 51,4 pada bulan sebelumnya.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya sedang bergerak flat di pasar uang Asia  setelah koreksi tipis  sesi sebelumnya.

Sentimen investor dipengaruhi progres stimulus fiskal AS dan juga vaksinasi yang agresif akan membantu Amerika Serikat memimpin pemulihan pandemi global.

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.