DAILY OUTLOOK

14 APRIL 2021

TINJAUAN FUNDAMENTAL

EUR/USD: Naik Karena “Buy the Rumor, Sell the Fact.”

EUR/USD naik melewati 1.19 ke sekitar 1.1937 dengan keluarnya data inflasi AS yang sedikit diatas dari yang diperkirakan. ZEW economic sentiment Jerman meleset dengan 70.7 poin.

Sesi awal perdagangan dimulai dengan para investor mengantisipasikan kenaikan inflasi dari rilis data ekonomi Consumer Price Index (CPI) untuk bulan Maret. Semula CPI diperkirakan akan rendah karena harga-harga jatuh pada bulan Maret tahun 2020 akibat pandemik. Namun, setelah Producer Price Index lompat 1% pada bulan lalu, proyeksi mengenai inflasi berubah dengan harga sudah mulai bergolak naik karena isu supply yang kurang.

Akibatnya dollar AS telah naik duluan sebelum data CPI dikeluarkan, naik bersamaan dengan naiknya yields obligasi AS, karena ekspektasi akan naiknya data CPI AS. Dengan dollar AS telah naik duluan sebelum data CPI keluar, maka pada saat data CPI keluar, bahkan apabila angkanya naik sesuai dengan yang diperkirakan maka dollar AS akan berbalik turun karena pasar mengalami apa yang dinamakan dengan “buy the rumor, sell the fact”.

Sesi awal EUR/USD diperdagangkan sampai paruh pertama dari hari itu dalam tekanan dan  berkonsolidasi di sekitar 1.1900, tidak bisa menembus rentang harga yang ketat, akibat “buy rumor, sell the fact” yang mengangkat naik dollar AS. Selain itu, EUR/USD juga tertekan oleh karena data ZEW economic sentiment Jerman bulan April meleset dengan 70.7 poin.

Namun keadaan berubah, setelah keluar data inflasi AS oleh karena aksi “buy the rumor & sell the fact”. Laporan mengatakan bahwa Consumer Price Index (CPI) AS naik 0.6% pada bulan Maret, setelah kenaikan sebesar 0.4% pada bulan Februari. Data ini sedikit lebih kuat daripada yang diperkirakan. Konsensus memperkirakan kenaikan sebesar 0.5%. Kenaikan bulanan di bulan Maret ini adalah kenaikan terbesar sejak kenaikan 0.6% pada bulan Agustus 2012. Laporan ini juga mengatakan bahwa angka inflasi tahunan umum naik 2.6% pada bulan Maret. Dengan mengeluarkan harga energi dan makanan yang volatile, inflasi inti naik 0.3% yang juga lebih tinggi daripada yang diperkirakan oleh para ekonom sebesar 0.2%.

GBP/USD: Poundsterling Lanjutkan Gain Meski Di Bayangi Oleh Data PDB Inggris Yang Menyusut.

Posisi poundsterling dalam pair GBPUSD pada perdagangan forex sesi Eropa hari Selasa  (13/4/2021) bergerak positif melanjutkan gain sebelumnya dengan melaju mendekati posisi resisten kuat. Namun pergerakan gain dibayangi oleh data PDB Inggris yang menyusut.

PDB Inggris menyusut 1,6% dalam tiga bulan hingga Februari, kontraksi paling tajam sejak Mei-Juli tetapi lebih baik dari ekspektasi pasar yang turun 1,9%. Secara bulanan, di bulan Februari saja PDB hanya naik 0,4%, dibandingkan dengan perkiraan kenaikan 0,6%, karena pembatasan pemerintah yang memengaruhi aktivitas ekonomi.

Namun terdapat data ekonomi positif yang bangkit dari kontraksi data sebelumnya seperti data produksi industri, produksi manufaktur dan hasil pekerjaan konstruksi Inggris. Produksi industri di Inggris meningkat 1 persen bulan ke bulan di  Februari 2021, setelah sebelumnya kontraksi 1,8 persen  bulan Januari dan jauh di atas ekspektasi pasar dari kenaikan 0,5 persen, kenaikan terbesar dalam enam bulan.

Sementara itu kekhawatiran atas pemilihan lokal dan regional bulan depan meningkat, setelah menteri pertama Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan bahwa Perdana Menteri Boris Johnson tidak akan menentang referendum kemerdekaan kedua jika partai Nasional Skotlandia memenangkan suara mayoritas.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya sedang terkoreksi di  pasar uang Eropa setelah  bergerak bullish di pasar uang Asia. Dolar rebound di sesi Asia oleh kenaikan lanjutan yield obligasi AS ke posisi 1,69%, namun kini dibatasi oleh kuatnya sentimen perdagangan aset risiko.

AUD/USD: Menguat Di Dukung Oleh Pelemahan USD Dan Baiknya Laporan Ekonomi & Pasar Komoditas.

Pair AUDUSD pada sesi Asia Rabu (14/4/2021) melaju mendekati posisi resisten kuat hariannya setelah gain selama 2 sesi berturut, menguat oleh posisi pelemahan dolar AS. Aussie juga mendapat tenaga dari pergerakan kuat harga di pasar komoditas dan laporan ekonomi yang optimis.

Survei Bisnis Bulanan NAB untuk Maret kemarin menunjukkan bahwa kondisi bisnis naik ke rekor tertinggi 25 indeks poin, rebound dengan cepat menyusul kondisi penurunan mendekati rekor di awal tahun 2020.

Sementara itu, aktivitas terus meningkat pada tingkat yang sangat sehat.

Posisi imbal hasil lokal 10-tahun turun dan berada di 1,70% sementara itu untuk yield obligasi 10-tahun AS turun mendekati posisi terendah 3-minggu di 1,616%.

Yield obligasi AS tertekan oleh laporan US FDA bahwa mereka merekomendasikan jeda dalam penggunaan vaksin virus corona J&J menyusul kasus pembekuan darah sebanyak 6 kasus.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya bergerak lemah di pasar uang Asia setelah terkoreksi ke posisi terendah 3 pekan pada sesi sebelumnya.

Dolar AS mendapat tekanan  dari anjloknya yield obligasi AS 10 tahun ke posisi 1,61% dan kuatnya perdagangan aset risiko.

USD/CHF

USD/JPY: Yen Bergerak Negatif Tembus Support Kuat Harian.

Pair USDJPY pada sesi Asia Rabu (14/4/2021) bergerak negatif menembus posisi support kuat hariannya memperpanjang tekanan 2 sesi sebelumnya oleh pelemahan dolar AS. Yen  menguat meskipun data ekonomi terkini tidak optimis di tengah kekhawatiran meningkatnya kasus virus corona di Jepang.

Data pesanan mesin inti di Jepang, yang tidak termasuk untuk kapal dan dari perusahaan tenaga listrik, secara tak terduga turun 8,5 persen bulan ke bulan di Februari 2021, meleset dari ekspektasi pasar untuk kenaikan 2,8 persen dan setelah penurunan 4,5 persen sebulan sebelumnya.

Sebelumnya Perdana Menteri Yoshihide Suga telah menyetujui penerapan langkah-langkah penanggulangan virus yang lebih ketat di 3 prefektur seperti Tokyo, Kyoto, dan Okinawa karena total kasus baru tertinfeksi virus di Jepang telah mencapai 500.000 pada hari Sabtu.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya bergerak lemah di pasar uang Asia setelah terkoreksi ke posisi terendah 3 pekan pada sesi sebelumnya.

Dolar AS mendapat tekanan  dari anjloknya yield obligasi AS 10 tahun ke posisi 1,61% dan kuatnya perdagangan aset risiko. Data inflasi yang melonjak ke tertinggi 2 tahun tidak mampu pulihkan dolar AS.

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.