DAILY OUTLOOK

21 APRIL 2021

TINJAUAN FUNDAMENTAL

EUR/USD: Akankah Peluang EURO Naik Lagi Masih Besar?

EUR/USD diperdagangkan dibawah 1.2050, disekitar 1.2040 turun dari ketinggian sebelumnya, namun masih bisa mempertahankan sebagian besar dari keuntungannya. Dolar AS tetap berada di posisi bawah meskipun yields obligasi AS mengalami kenaikan.

Melemahnya dollar AS tidak akan berlangsung selamanya namun euro telah mendapatkan alasan yang baru untuk naik. Meskipun demikian, kenaikan pasangan matauang EUR/USD keatas 1.20 digerakkan oleh penurunan dollar AS, dengan berbagai alasannya. Optimisme akan pemulihan ekonomi AS berhasil mengangkat naik ekonomi dunia dan menjinakkan yields treasury AS. Hal ini menjadi alasan utama pergerakan naik dari EUR/USD.

Sementara itu yields obligasi benchmark 10 tahun AS ada disekitar 1.62%, masih jauh dari puncak 1.77% namun sudah diatas dari dasar baru-baru ini di 1.55%. Apakah dollar AS akan tetap tertekan sementara yields AS mulai naik kembali?

Hal yang menekan dollar AS lainnya adalah rencana belanja infrastruktur pemerintah yang akan dibiayai oleh kenaikan pajak. Apabila rencana menaikkan pajak perusahaan ini berhasil dijalankan, maka akan ada pengurangan penerbitan surat hutang sepanjang jalan dan berkurangnya tekanan terhadap obligasi AS yang pada gilirannya akan menurunkan yields dan membebani dollar AS.

Pergerakan selanjutnya dari pasangan matauang EUR/USD berikutnya kemungkinan bergantung kepada perkembangan di benua Eropa. Setelah minggu lalu vaksin J&J dihentikan pendistribusiannya, sekarang ada kemungkinan diijinkan lagi penggunaannya oleh regulator, dengan demikian mendorong naik kampanye vaksin Eropa. Eropa telah meningkatkan kampanye imunisasinya dan sekarang sudah mencapai kurang lebih 20% dari populasinya untuk satu kali suntikan. Secara keseluruhan, EUR/USD masih memiliki lebih banyak alasan untuk naik.

After Consolidation, What Will Happen Next to EUR/USD??

GBP/USD: Pounds Terkoreksi Turun Meski Berpotensi Naik

GBP/USD diperdagangkan dibawah 1.40, disekitar 1.3953, turun dari ketinggiannya ditengah angka pekerjaan Inggris yang bagus, karena koreksi normal akibat kenaikkan yang terlalu tinggi dan cepat. Inggris melaporkan penurunan tingkat pengangguran ke 4.9%, lebih baik daripada yang diperkirakan. The Claimant Count Change juga mengatasi daripada yang diperkirakan.

Apakah kenaikan GBP/USD yang sampai 340 pips dalam satu minggu terlalu tinggi dan terlalu cepat? Secara grafik tehnikal kelihatannya begitu, tapi pelemahan dollar AS yang terus berlangsung bisa menyebabkan kenaikan yang lebih jauh. Dollar AS tetap dalam posisi di bawah dengan yields treasury AS tetap rendah secara relatif, meskipun sudah sempat naik sedikit baru-baru ini. Yields obligasi benchmark AS 10 tahun, berada pada sekitar 1.60%, masih jauh dari ketinggian yang sempat dicapai di 1.77% namun diatas dari kerendahan baru-baru ini 1.55%.

Sentimen pasar tetap bagus terhadap ekonomi AS, yang terus menunjukkan data-data ekonomi yang bagus dan hal ini membantu menaikkan ekonomi negara lainnya. Sentimen “risk-on” ini membebani dollar AS yang safe-haven dan kelemahan dollar AS sekarang sudah punya kekuatannya sendiri sehingga tetap melemah meskipun terjadi penurunan di dalam pasar saham AS.

Faktor lainnya yang menekan dollar AS adalah spekulasi mengenai belanja infrastruktur AS. Sementara itu, Inggris terus mendapatkan keuntungan dari keberhasilan kampanye vaksinya. Infeksi dan pasien ke rumah sakit terus menurun meskipun kegiatan ekonomi sudah dibuka kembali secara bertahap. Selain itu poundsterling juga mendapatkan keuntungan dari bagusnya data ekonomi yang keluar. Dari laporan pekerjaan, tingkat pengangguran secara mengejutkan turun ke 4.9%, pada bulan Februari. Dan Claimant Count Change mengejutkan karena hanya bertambah sedikit sebesar 10,100 di bulan Maret. Secara keseluruhan Sterling masih memiliki alasan untuk naik sementara dollar AS menjadi lebih kompleks.

AUD/USD: Aussie Turun Namun Masih Di Support Kekuatan Harga Emas, Serta Tembaga Yang Menjadi Unggulan

Pair AUDUSD pada sesi Asia Rabu (21/4/2021) bergerak rebound setelah dibuka pada area support oleh posisi retreat dolar AS.

Aussie bergerak  mendekati tertinggi 4 minggu  setelah risalah pertemuan kebijakan April Reserve Bank of Australia kemarin menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi di Australia diperkirakan akan berlanjut, dengan perkiraan pertumbuhan di atas tren pada tahun 2021 dan 2022.

Namun, tekanan upah dan harga diperkirakan akan tetap tenang selama beberapa tahun. Bank sentral juga menegaskan akan tetap akomodatif hingga setidaknya tahun 2024 ketika inflasi aktual dapat dipertahankan dalam kisaran target 2-3%. 

Imbal hasil obligasi lokal 10-tahun naik lebih tinggi menjadi 1,702% sementara yield obligasi AS 10-tahun turun mendekati posisi terendah 5-minggu di 1,564%.

Dari pasar komoditas posisi aussie masih mendapat support dari  kekuatan   harga emas serta harga tembaga yang menjadi unggulan naik ke posisi tertinggi 1 dekade .  Namun posisi  harga minyak mentah terkoreksi dari posisi tertinggi 1 bulan merespon kenaikan kasus virus corona.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap banyak rival utamanya turun  di pasar uang Asia setelah rebound di  sesi  sebelumnya. Dolar bergerak pada kisaran   terendah 7 minggu  oleh turunnya yields US Treasury setelah pernyataan the Fed pekan lalu bahwa tingkat inflasi AS masih wajar.

USD/CHF

USD/JPY: Jepang Pertimbangkan Keadaan Darurat Di Tokyo, Osaka & Hyogo, Yen Makin Ambruk.

Pair USDJPY masih berada dalam tekanan turun, dan hal tersebut didukung oleh beberapa faktor, diantaranya adalah pelemahan yang terjadi pada index mata uang US Dollar dan juga turunnya imbal hasil yield 10 tahunan Amerika. Tercatat saat ini Index USD melemah dan berada pada level 91,1 dan 10Y Yield Amerika berada pada level 1.57%.

Selain itu beberapa kondisi geopolitik seperti panasnya tensi antara Amerika dan Rusia, serta ancaman gelombang selanjutnya dari pandemi virus corona menjadikan aset safe haven seperti Emas dan mata uang Yen Jepang bergerak menguat, sehingga hal tersebut memberi peluang bagi pair USDJPY untuk kembali bergerak turun pada pekan ini.

Ketakutan atas virus corona kembali berlaku dan membebani pasar pada hari Selasa. Di antara negara-negara yang terkena dampak paling parah, India memimpin penghitungan, sementara Jepang siap memberlakukan keadaan darurat yang disebabkan virus di Tokyo dan prefektur sekitarnya. India menyumbang satu dari setiap tiga penulran baru Covid, rata-rata, menurut data virus corona 20 April  dari Reuters, dengan total 15.321.089 kasus dan 180.530 kematian.

Media Jepang, Sankei, menyebutkan bahwa pemerintah walikota Asia siap mengumumkan status darurat ketiga yang dipimpin virus untuk prefektur Tokyo, Osaka dan Hyogo pada hari Rabu. Namun, rincian resmi masih menunggu. Perlu disebutkan bahwa Toronto menutup beberapa tempat kerja karena penyebaran virus sementara infeksi global meningkat 12% pada basis mingguan.

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.