DAILY OUTLOOK COMMODITIES XAU & OIL

  • by

15 FEBRUARI 2021
Tinjauan Fundamental

XAU/USD: Emas Tertekan Lagi Oleh Penguatan US Dollar

Emas merosot lagi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB) atau memperpanjang penurunan dalam dua hari berturut-turut. Harga emas turun tertekan penguatan dolar dan investor yang melanjutkan aksi jual menjelang liburan akhir pekan dan Hari Presiden di AS jatuh Senin 15 Februari 2021.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange turun USD3,6 atau 0,2% menjadi USD1.823,20 per ounce. Secara mingguan, harga emas ini naik 0,6%.

Sebelumnya, emas berjangka naik USD5,2 atau 0,28% menjadi USD1.842,70 pada Rabu (10/2/2021), setelah menguat USD3,3 atau 0,18% menjadi USD1.837,50 pada Selasa (9/2/2021) dan melonjak USD21,2 atau 1,17% menjadi USD1.834,20 pada Senin (8/2/2021).

Dolar menguat sekitar 0,1% terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya. Hal ini yang membuat emas dihargakan dalam mata uang AS kurang menarik, karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Emas juga berada di bawah tekanan karena imbal hasil obligasi AS masih mendekati level tertinggi sejak Maret 2020.

“Kemungkinan akan melanjutkan tren naiknya dalam beberapa pekan mendatang karena ekspektasi kami untuk dolar melemah lebih lanjut di samping imbal hasil riil tetap rendah atau negatif,” kata Analis Standard Chartered Suki Cooper, dikutip dari Antara.

Emas juga menuju kenaikan mingguan pertamanya dalam tiga pekan, dibantu oleh ekspektasi untuk paket bantuan virus corona USD1,9 triliun mengingat statusnya sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang kemungkinan dipicu oleh stimulus yang meluas.

OIL (CLR): Minyak Melonjak Naik 5,21% Sepekan, Tertinggi Sejak Oktober 2019

Meski kenaikan harga sempat tersendat pada hari Kamis, harga minyak menutup pekan ini di level tertinggi. Jumat (12/2), harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2021 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,47 per barel, menguat 2,11% ketimbang hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga minyak WTI menguat 4,60%. Harga minyak brent untuk kontrak April 2021 di ICE Futures bahkan melesat 5,21% dalam sepekan. Harga minyak brent pekan ini ditutup pada US$ 62,43 per barel, naik 2,11% dalam sehari.  Menurut data Bloomberg, harga minyak brent ini merupakan level tertinggi sejak Oktober 2019. Sedangkan harga minyak WTI merupakan level tertinggi sejak November 2018.

Harga minyak terangkat harapan stimulus Amerika Serikat (AS) akan meningkatkan ekonomi dan permintaan bahan bakar. Pasokan minyak mengetat karena sebagian besar pemotongan produksi oleh negara-negara produsen teratas pada OPEC+. Presiden AS Joe Biden akan bertemu dengan kelompok bipartisan walikota dan gubernur. Dia terus mendorong persetujuan rencana bantuan virus corona senilai US$ 1,9 triliun untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membantu jutaan pekerja yang menganggur.

Ketiga indeks saham utama AS berada di jalur untuk kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Penurunan tajam dalam kasus Virus Corona baru dan rawat inap meningkatkan harapan kehidupan pada akhirnya akan kembali normal. “Stimulus AS yang diharapkan dan kemajuan vaksin yang sedang berlangsung kemungkinan akan mempertahankan selera untuk aset berisiko dalam menawarkan dukungan ke pasar minyak,” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois kepada Reuters.

Harga minyak meningkat selama beberapa pekan terakhir karena sebagian pengurangan produksi dari OPEC+. “Harga minyak menahan kenaikan baru-baru ini minggu ini, didukung oleh tanda-tanda lebih lanjut bahwa stok minyak mentah, terutama di AS, sedang jatuh,” kata analis Capital Economics dalam sebuah catatan. “Kami mengantisipasi bahwa persediaan akan turun lebih lanjut akhir tahun ini karena permintaan bahan bakar transportasi meningkat seiring dengan pelonggaran pembatasan terkait virus pada perjalanan,” ungkap Capital Economics. Namun, OPEC minggu ini menurunkan ekspektasi untuk permintaan minyak global pulih pada 2021. Dia memangkas perkiraannya sebesar 110.000 barel per hari (bph) menjadi 5,79 juta barel per hari. Badan Energi Internasional atawa International Energy Agency (IEA) mengatakan pasokan minyak masih melebihi permintaan global, meskipun vaksin Virus Corona diharapkan dapat mendukung pemulihan permintaan. “Laporan (IEA) melukiskan gambaran yang lebih pesimis daripada yang diperkirakan pelaku pasar karena harga tinggi saat ini,” kata Commerzbank.  Rebalancing pasar minyak juga bisa menghadapi hambatan jika produksi AS naik. Menurut data Baker Hughes, pengebor AS minggu ini menambahkan rig minyak dan gas alam selama 12 minggu berturut-turut, penambahan terpanjang sejak Juni 2017.

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.