DAILY OUTLOOK COMMODITIES XAU & OIL

18 JANUARY 2021
Tinjauan Fundamental

XAU/USD Emas 18 Januari 2020: Tertekan Bullish Dolar, Harga Emas Merosot Lagi

Emas berjangka turun pada hari Jumat karena penguatan dolar AS membebani harga logam mulia, yang menyebabkan penurunan moderat emas untuk minggu ini. Ketangguhan Dolar AS karena profit-taking dan kenaikan yield obligasi menjadi sandungan bagi penguatan harga emas. Faktor pendukung safe haven logam mulia seperti tambahan stimulus fiskal AS masih sulit mendongkrak harga emas untuk melawan bullish Dolar.

The Fed telah menahan suku bunga pada 0-0,25% untuk memberikan bantuan kepada ekonomi sejak pandemi virus korona melanda Amerika Serikat pada Maret 2020. Ekonomi AS menyusut 5% pada kuartal pertama tahun lalu dan 31,4% dalam tiga bulan berikutnya sebelum rebound 33,1% pada kuartal ketiga. Kinerja kuartal keempat belum diselesaikan.

Terlepas dari rebound pada kuartal ketiga, prospek ekonomi AS tetap mengerikan dengan rawat inap kasus Virus Corona dan kematian mencapai level tertinggi baru dalam beberapa bulan terakhir. Amerika Serikat juga tetap menjadi negara yang paling parah terkena pandemi, dengan lebih dari 23 juta kasus tercatat sejak Januari 2020 dan lebih dari 385.000 kematian akibatnya.

Tahun lalu, setelah stimulus pertama untuk masa pandemi sebesar $3 triliun oleh pemerintahan Trump pada bulan Maret, imbal hasil dan dolar jatuh, dan emas berjangka melesat ke rekor tertinggi di $ 2.075 pada 7 Agustus 2020 lalu.

Seperti diketahui, Presiden terpilih AS, Joe Biden, telah merilis rincian rencana pengeluaran sebesar $ 1,9 triliun semalam. Pengeluaran tersebut termasuk untuk subsidi langsung ke rumah tangga, perluasan tunjangan pengangguran dan perluasan vaksinasi serta program pengujian virus. Proposal tersebut telah diperkirakan oleh pelaku pasar sejak Demokrat memenangkan kendali Senat pada awal Januari. Akan tetapi, pertanyaan tentang bagaimana rencana pemerintahannya untuk membayar tagihan tersebut telah mendorong imbal hasil Treasury AS naik lebih tinggi yang mendukung penguatan Dolar AS.

Reaksi pasar terhadap proposal Biden senilai $1,9 triliun yang dibukakan pada hari Kamis adalah yg negatif. Pertanyaannya adalah seberapa cepat Biden bisa meloloskan stimulus yang diusulkan. Dia akan mendapatkan resistensi dari Senat seperti sebelumnya. Hanya diperlukan beberapa Republikan untuk berkata tidak yang bisa membuat prosesnya menjadi sangat lama.

Inflasi juga tidak dapat diabaikan pada tahun ini. Pasar prihatin dengan pencetakan uang selama ini. Obligasi dan imbal hasil mulai menunjukkan tanda – tanda naiknya inflasi karena pencetakan uang. Jika inflasi akhirnya mencapai 2%, situasi ini bisa tidak terkontrol lagi dan ini bagus buat emas. Powell menunjuk kepada inflasi yang bisa mulai naik dengan cepat dengan mengatakan bahwa pada saat pandemik mereda, akan ada gelombang belanja yang kuat yang bisa mendorong harga-harga naik.

Update Technical Analysis XAUUSD in H4 Time Frame Using Fibo & Trendlines (as ususally) (18 Jan 2021)

OIL (CLR) Minyak 18 Januari 2020: Masih Memiliki Prospek Cerah Meskipun Saat Ini Tertekan Turun

Minyak berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediary (WTI) diperdagangkan dibawah pada hari perdagangan terakhir minggu lalu. WTI turun kembali ke level $52 dari ketinggiannya di $53.90 Harga minyak turun pada hari Jumat (15/01) masih karena kekhawatiran tentang peningkatan kasus virus corona di berbagai negara. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 54 sen, atau 1%, lebih rendah pada $ 53,03 per barel, setelah naik lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. Harga minyak mentah berjangka Brent turun 80 sen, atau 1,4%, menjadi $ 55,62, setelah naik 0,6% pada hari Kamis. Brent sedang menuju penurunan mingguan pertama dalam tiga minggu, sementara minyak mentah AS berada di jalur untuk kenaikan mingguan ketiga.

Pasar saham Eropa ditutup dengan kerugian yang signifikan pada hari Jumat minggu lalu akibat berita bahwa distribusi dari vaksin Pfizer akan melambat sebentar karena perusahan tersebut sedang mengupgrade fasilitas produksinya di Eropa. Terlebih lagi, keprihatinan akan lockdown juga ada, dengan Itali bersiap memperketat lockdown dan Jerman kelihatannya akan mengikuti. Sementara itu, perusahaan penerbangan di Inggris mendapatkan pukulan dengan PM Inggris Boris Johnson mengumumkan persyaratan bagi penerbangan internasional yang mana saja yang bisa masuk ke Inggris tanpa tes, ditengah ketakutan akan masuknya varian baru Virus Corona internasional.

Berita diatas kelihatannya membebani pasar minyak mentah karena keprihatinan bahwa pukulan terhadap ekonomi akibat lockdown akan merusak permintaan akan minyak mentah. Ditambah lagi dengan pernyataan Biden yang “hawkish” mengenai pajak, ikut membebani pasar minyak mentah. Meskipun ada tekanan turun diatas dimana WTI telah turun lebih dari 3% dari ketinggian bulanan mendekati $54, perlu dicatat bahwa para bank masih memandang harga minyak mentah akan “bullish”. JP Morgan adalah yang terbaru bergabung dalam kumpulan bank yang memandang harga minyak mentah akan “bullish”. Bank – bank memperkirakan harga minyak mentah akan bisa naik ke $60 dalam jangka pendek dengan berkurangnya persediaan fisik minyak mentah.

Para analis menganggap kemungkinan terjadinya kekurangan persediaan minyak mentah masih lebih besar daripada kemungkinan terjadinya kelebihan persediaan, dengan dua alasan. Alasan pertama adalah penambahan pengurangan produksi sepihak secara sukarela oleh Arab Saudi sebanyak 1 juta barel per hari akan mulai berlaku efektif pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret. Alasan kedua adalah ekspektasi “rebound” nya aktifitas ekonomi global dengan kuat pada saat belahan bumi utara memasuki musim panas dan ekonomi negara – negara maju memasuki fase imunitas kelompok melawan virus corona.

Sementara itu produsen menghadapi sentimen peluncuran vaksin versus penguncian. China melaporkan jumlah kasus virus corona harian tertinggi dalam lebih dari 10 bulan pada hari Jumat, membatasi seminggu yang telah mengakibatkan lebih dari 28 juta orang diisolasi dan kematian pertama negara itu akibat virus corona dalam delapan bulan.

Untuk jangka pendek harga minyak tertekan seiring kekhawatiran peningkatan kasus pandemi dan penguncian ketat di beberapa negara yang memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan minyak.

Update Technical Analysis OIL in H1 Time Frame Using Fibo & Trendlines (18 Jan 2021)

Disclaimer:

Bertransaksi di Perdagangan Berjangka Komoditi memiliki resiko yang tinggi dan mungkin tidak sesuai untuk semua orang.

Banyak faktor bagi seorang investor yang harus dipertimbangkan sebelum bertransaksi, seperti obyektifitas, tingkat pengalaman dan keinginan berinvestasi dengan resiko untuk setiap investor.

Opini, berita, riset, analisa, harga atau informasi yang terkandung di dalamnya disediakan hanya sebagai komentar pasar secara umum saja.